Rabu, 19 Oktober 2011

MAGANG JADI

Perkembanganentrepreneurship di kalangan perguruan tinggi meningkat.
Selama ini magang atau praktik kerja mahasiswa lebih banyak dilakukan di perusahaan. Mahasiswa berpraktik kerja sebagai karyawan di perusahaan tersebut.
Namun sesuai dengan semangat kewirausahaan yang coba disebarkan melalui kampus, ada beberapa perguruan tinggi yang mengubah metode magang. "Mulai tahun 2010, kami mengubah magang bukan sebagai karyawan, tapi sebagai manajer atau pengusaha," ujar Direktur Bina Sarana Informatika (BSI), Naba Aji Notoseputro.
Dalam pelaksanaannya BSI bekerja sama dengan komunitas pengusaha muslim Tangan Di Atas (TDA). Pelaksanaan magang dilakukan memalui sosialisasi mindset (pola pikir) jadi pengusaha selama enam hari. Tiga hari pertama dalam ruangan, sisanya selama tiga hari kedua magang di tempat pengusaha.
Magang tahap kedua, kata Naba, peserta diajarkan bagaimana jadi pengusaha yang sebenarnya. Mereka dilatih mengatur gaji, pemasaran, produktivitas, sampai mengatur shift kerja. Dengan metode ini siswa tidak hanya dapat teori tapi langsung praktik.
Naba mengatakan awalnya yang ikut pelatihan sebanyak 600 orang. Setelah mentoring dalam ruangan berakhir, peserta menyusut jadi 100 orang. "Hal ini merupakan bukti bahwa menjadi pengusaha memang bukan main-main. Pengusaha diharuskan bekerja dan berinovasi sepanjang waktu. Untuk mengatur karyawan dan keuangan juga bukan hal yang mudah," tegasnya.
Naba berpendapat, untuk jadi pengusaha cara berpikir harus diubah. Hal ini dilakukan supaya mereka tidak malu berjualan ataupun jadi pengusaha.
Pengubahan cara berpikir tentunya bisa diatasi dan mental pengusaha bisa terbentuk. "Dengan magang menjadi pengusaha dan peserta mengerti hal-hal yang berhubungan dengan sistem kerja perusahaan, perserta terlatih menjadi manajer dan decision maker (pengambil keputusan)," tutur Naba Aji.
Wakil Presiden TDA Bidang Edukasi Bisnis, Faif Yusuf mengatakan, dalam proses magang sebetulnya mahasiswa bisamemilih, hendak jadi pekerja atau pengusaha. "Magang jadi karyawan bisa diambil sisi positifnya. Yaitu bisa mengetahui bagaimana perusahaan beroperasi, sehingga berpengaruh pada pengaturan perusahaan secara profesional," ujar Faif Yusuf.
Faif mengatakan menjadi seorang wirausaha tidak bisa dipaksa. Untuk menjadi wirausaha diperlukan karakter tententu. Karakter tersebut adalah kreatif, inovatif, dan mandiri. "Karakter ini tentu tidak terdapat pada orang yang berkecenderungan menjadi karyawan," ujarnya.
Pengusaha juga memiliki kecenderungan tidak suka rutinitas dan mendelegasikan tugas. Hal ini dilakukan bila yang bersangkutan merasa sudah mampu melakukannya dengan baik. Seorang pengusaha, ungkap penulis buku Rahasia Jadi Entrepreneurship Muda itu, tidak suka melakukan hal yang sama terus-menerus. Dia menyukai tantangan baru dan suka mengembangkan diri. "Seorang pengusaha dibesarkan dengan masalah. Masalah tersebut tentunya menjadi tantangan. Semakin banyak tantangan yang telah dilalui, maka ia akan semakin besar," papar Faif Yusuf.
Wirausaha dan karier
Pengusaha nasional terkemuka, Sandiaga S Uno mengatakan, perkembangan entrepreneurship di kalangan perguruan tinggi menunjukkan peningkatan positif. Kurikulum mengenai kewirausahaan hampir ada di setiap perguruan tinggi. "Namun hal tersebut akan sia-sia apabila tidak ditunjang lingkungan yang kondusif, " tuturnya.
Untuk membentuk mental pengusaha diperlukan perubahan pola pikir. "Pola pikir tersebutterdiri atas kerja keras, sikap hidup optimis, inovatif, kreatif, dan leadership. Nilai-nilai tersebut dapat tumbuh di lingkungan sosial yang mendukung," tutur pendiri PT Saratoga Investama Sedaya itu.
Faif menyarankan perguruan tinggi memisahkan entrepreneur-ship dan career centre. "Karena doktrin dan lingkungan yang membesarkan mereka berbeda," ujarnya memberikan alasan.
Pembedaaan ini coba dilakukan oleh BSI dengan mengelompokkan mereka yang berminat menjadi wirausaha. Hal yang sama juga dilakukan Lembaga Pendidikan Dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I). Pada semester keempat mahasiswa bebas memilih jadi pengusaha atau pekerja. "Untuk yang memilih jadi pengusaha akan dikelompokkan dan diberi trainer sendiri. Sifatnya non-SKS Sehingga, kalau di tengah jalan mereka mengubah keputusan, bisa kami antisipasi. Program ini akan kami jalankan tahun depan," ujar Direktur Program LP3I, Roni Setiawan.
Berani memulai, berani rugi
"Siapa pun yang ingin menjadi pengusaha harus berani memulai, berani mengambil risiko, dan berani berbisnis meski awalnya mengalami kerugian," tegas mantan wapres, Jusuf Kalla beberapa waktu lalu.
Hal itu pun ditunjukkan oleh Muhammad Bhakty Kasry. Ia rela meninggalkan kursi empuk country manager sebuah perusahaan kurir dan logistik raksasa dunia, dan berani merintis usaha jasa kurir dan logistik sendiri dengan mengibarkan bendera Pandu Siwi Sentosa (Pandu Logistics).
Kini, setelah hampir duadasawarsa, perusahaan milik anak negeri itu menjelma menjadi salah satu perusahaan jasa kurir dan logistik nasional terbesar di Tanah Air. Jaringannya mencakup 155 kantor yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia dan mempekerjakan lebih dari 2.000 karyawan. "Kami juga memiliki kantor perwakilan di Singapura," kata Bhakty Kasry.
Pendiri dan pemilik Ayam Bakar Wong Solo (ABWS) Group, Puspo Wardoyo berani menanggalkan profesi guru dan memulai usaha berjualan ayam bakar di Medan. Mulanya hanya laku satu atau dua ekor sehari. Tapi setelah mengalami jatuh bangun, berkembang pesat hingga ke berbagai kota di Indonesia, bahkan mancanegara, yakni Malaysia dan Singapura. Kini dalam usianya yang sudah mencapai 20 tahun, ABWS Group sudah berkembang menjadi delapan merek dan memiliki 92 outlet.
Sejak tahun 2004, ABWS merambah Masia. Saat ini ABWS sudah berhasil membuka enam outlet di negeri jiran tersebut, tersebar di Kuala Lumpur, dan Selangor. "Wong Solo sudah menjadi makanan tuan rumah di negeri Malaysia. Karena itu, tahun 2015 kami mematok target punya 15 cabang di Malaysia," ujar Puspo Wardoyo.
Penemu dan pemilik PT Zahir International, Fadil Fuad Basymeleh, merintis usaha di bidang IT sejak 14 tahun silam. Bertahun-tahun pertama adalah masa-masa yang sulit, namun akhirnya bisa dilalui. "Zahir berkembang darTZahir versi 1.0 sampai kini 6.0, dan menjadi market leader Untuk software akuntansi," kata Direktur PT Zahir International, Muhammad Ismail Thalib. cil. td. irwan kelana,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar